Perfilman kita (baca Indonesia), saat ini sedang di ramaikan oleh film-film yang bertemakan nasionalisme, di mana pengujian terhadap ke cintaan kita terhadap negri sendiri telah terbukti. Lihat saja pamutaran film di bioskop di mulai dari Laskar pelangi sebuah kisah fenomenal yang di angkat dari novel laris karangan Andrea Hirata, Denias Senandung di Atas Awan yang bercerita tentang perjuangan atau lebih tepatnya potret pendidikan di wilayah Timur Indonesia, Garuda di Dadaku dan King.
Sebuah kebangkitan film yang bertemakan perjuangan para tokohnya. Hidup di udara bebas Indonesia, menginjakkan kaki di Indonesia dan yang paling terpenting adalah cara mereka menyingkap sebuah ide tentang nasionalisme yang tidak harus selalu ke barat-baratan.
Tapi sayang gaungnya agak tertutup. Karena timbulnya persaingan yang ketat dari pasar kita terutama film-film Hollowood yang turut meramaikan kancah per bioskopan kita lihat saja film Transformer : "Revenge Of The Fallen", Ice Age: Dawn Of Dinosaurs (Ice) dan sederet film Luar negri yang lainnya. Awalnya saya sempat pesimis menanggapi ini, namun kekawatiran saya tidak terbukti. Film-film kita yang bertemakan Nasionalisme tetap mendapatkan tempat di hati para pecinta filmnya.
Karena memang Film-film kita yang bertemakan perjuangan tentang kecintaan terhadap negri di mana ia di lahirkan masih relevan atau bahkan masih banyak yang merindukannya. Salam sukses selalu kepada sineas muda Indonesia, dan kita selalu tunggu karya-karya selanjutnya.
Labels: Info film, Review Film

















M E R D E K A ! ! !
Mantab, asal jangan kaya dulu aja lagi film indonesia.. itu itu zaman kiki fatmala dkk!! wah gara seru,,! esek esek (hi hi) seru juga sich tapi bosen! juga.. yap mingkin skrang jamanya film2 berbau nasionalisme.. maju terus lah film Indonesia
Sepakat,, Sebernya film2 di negara kita juga bisa maju, toh banyak dari sineas indonesia yang kreativitasnya tanpa batas...
hanya saja, sayang, berkali2 itu selalu tersandung masalah biaya dan kebutuhan pasar...
Orang indonesia yang cenderung konsumtif, sehingga karya2 film kita lebih didasarkan pada kebutuhan pasar... Misak, lagi rame2 film hantu, semua jadi ikut2an film hantu, malah sinetron drama juga jadi ada hantunya... Jadi kadang sang sutradara yang berambisi menciptakan film hebat, tiba-tiba dipungkas dengan kalimat yang udah basi : "Wah, gak usah bikin film kayak gitu, mahal, lagian masyarakat kita gak kan suka, nanti gak ada yang beli tiketnya..."
Sayang sekali...
Nice info gan, ditunggu kunjungan baliknya...